Minggu, 23 September 2007

PROFESIONALISME KESADARAN DALAM GERAKAN TRANSFORMATIF

PROFESIONALISME KESADARAN DALAM GERAKAN TRANSFORMATIF


Dewasa ini masyarakat selalu dihantui oleh pembangunan, modersnisasi, dan globalisasi atau dikenal kesejagatan. Dimana dengan membangun berarti melakukan program-program pembangunan, dan pembangunan menggerakkan modernisasi dan modernisasi digerakkan oleh pembangunan. Sedangkan globalisasi (kesejagatan) bersifat kompleks dan merupakan konsep yang berlapis-lapis dan fenomena social yang didukung oleh fakta geografis: bahwa manusia dan tempat-tempat di dunia ini telah menjadi semakin terhubungkan satu sama lain (interconnected) secara lebih luas, sebagai akibat dari meningkatnya aliran modal, barang dan jasa antarbangsa, informasi dan gagasan, teknologi serta manusia (Arjun Appaduras, 1996). Sehingga agar Indonesia tidak ketinggalan jaman dalam pembangunan harus berhubungan dengan Negara lain dan berarti Indonesia juga harus mengikuti arus globalisasi yang ada.

Apakah globalisasi akan membawa kesejahteraan, keadilan dan perdamaian di dunia? Atau malah akan terjadi ketidakadilan dan eksploitasi? Tergantung kacamata apa yang kita gunakan. Akan tetapi dengan melihat realita yang ada penghancuran moral masyarakat telah tampak dari hasil globalisasi. Pornografi yang tampil sangat vulgar, adegan kekerasan dan budaya instant yang ditayangkan di berbagai media. Bahkan secara tidak sadar, masyarakat kita telah terlibat ataupun mendukung kebijakan public yang mengembangkan kekerasan budaya, kekerasan social, kekerasan lingkungan (lewat pembabatan hutan dan pembalalanliar) maupun kekerasan structural dan ideologis.

“Pornografi social” dan “pornografi ekonomi” yang berupa kemiskinan yangmencekik para petani, nelayan danmasyarakat miskin perkotaan- yang sebagian besar adalah bagian dari umat, berkembangnya berbagai macam penyakit, kematian ibu yang melahirkan, busung lapar, biaya pendidikan yang tidak berpihak, mahalnya air bersih dan lain-lain. Itu semua bukan bencana alam, tetapi akibat ulah tangan manusia yang dikenal sebagai makhluk paling sempurna. Masih banyak lagi kreatifitas hasil globalisasi: kejahatan internasional yang terorganisir, korupsi, kejahatan pencucian uang, perdagangan narkotika, perdagangan perempuan dan anak-anak. Dan salah satu dampak globalisasi yang langsung menjadi beban Negara, masyarakat, dan rakyat jelata adalah “globalisasi hutang” yang membuat semua warga Negara dan bahkan bayi yang baru lahir berposisi sebagai ghorim (orang yang berhutang).

Sesungguhnya kita sengaja maupun tidak sengaja menyadari realita kehidupan yang sedang terjadi. Sungguh munafik jika kita tidak mengakui bahwa kita tidak tahu apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Atau kemungkinan kita semua sadar apa yang terjadi, namun kesadaran masing masing individu berbeda-beda dan kesadaran seperti apa yang seharusnya dimiliki oleh setiap insane di dunia ini?


HAKEKAT MANUSIA

Esensi manusia adalah makhluk fungsional yang bertanggung jawab (QS. 23:115), sesuai dengan eksistensinya sebagai makhluk individual; (al insane), makhluk biologis (al basyar), sabagai hamba Allah SWT yang disebut Abdullah (QS. Adz Dzariyat: 56), makhluk social (an nas),maupun sebagai penguasadi bumi yaitu khalifah fil ardhi (QS. Al Baqarah: 30).

Dengan kita menyadari akan fungsi manusia maka kita tahu siapa diri kita. Mampukah kita mewujudkan mimpi untuk misi perubahan dunia?

Ketika kita sadar bahwa kita adalah makhluk berarti kita sadar bahwa ada pencipta dari makhluk tersebut ( QS. Al A’raf: 172). Dan benih meyakini terhadap eksistensi Allah hakekatnya merupakan fitrah atau sesuatu yang bersifat kodrati. “ Allah menciptakan manusia diserta dengan berbagai macam naluri, termasuk di dalamnya naluri ber-Tuhan, naluri beragama, yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.” (Depag RI, Al Qur’an dan terjemahannya:165)

Manusia sadar bahwa mereka sebagai makhluk yang diciptakan sehingga harus sadar untuk mengetahui mengapa harus ada dan dilahirkan. Pencipta kita tidak melarang kita untuk mengetahui siapa diri kita. “Maka ketahuilah!, bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah”.

Kalimat ‘ketahuilah!’ mengandung arti bahwa Allah sendiri memerintahkan kepada manusia agar mendayagunakan seluruh potensi jiwanya semaksimal mungkin, khususnya mendayagunakan akal fikiran secara rasional, kritis dan radikal untuk merenungkan dan menguak beragam misteri yang ada di jagat raya beserta segala isinya. Manusia dan realita adalah salah satu diantaranya. Rosulullah Muhammasd saw juga bersabda “Berpikirlah terhadap segala ciptaan Allah (alam semesta dan manusia) dan jangan sekali-kali memikirkan Dzat (substansi) Allah. (karena memikirkan dan merenungkan substansi Allah) justru akan mencelakakan kalian sendiri” (alHadits).

Telah disebutkan bahwa salah satu fungsi manusia adalah sebagai khalifah fil ardhi. Manusia sebagai kholifah dari Allah dan Allah adalah puncak segala kebaikan dan kesempurnaan. Dengan demikian, manusia adalah titisan dari kebaikan dan kesempurnaan-Nya. Jadi manusia berkedudukan sebagai wakil / pengganti Allah di muka bumi. Yaitu manusia yang mempunyai kemampuan untuk mengatur dan mengubah alam karena manusialah yang mengetahui sedikit banyak rahasia alam. Semua itu tidak berku bagi makhluk-makhluk yang lain.

Rumi menafsirkan manusia sebagai kholifah, yaitu sebagai makhluk yang mewakili kehadiran Tuhan di muka bumi. Dia mengatakan, “Kalau taman bunga mawar telah musnah, kemanakah kita bisa mencium semerbak mawar? Jawabnya: pada air mawar.” “ Tuhan adalah mawar sejati yang ghaib, sedangkan manusia adalah sang air mawar yang mengemban semerbak (esensi) Tuhan” sufi lain mengatakan bahwa manusia adalah cermin yang melaluinya Tuhan dapat melihat wajah-Nya.”

Selain itu juga disebutkan bahwa manusia sebagai mikrokosmos (dunia kecil) karena terkandung di dalamnya segala unsure yang ada dalam kosmos. Seperti halnya buah yang terkandung di dalamua sma unsure pohon yang melahirkannya _seperti akar, batang, cabang, dahan dan ranting- demikian juga terkandung di dalam diri manusioa seluruh unsure kosmos, seperti mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan dan bahkan unsure malaikat dan illahi. Ide bahwa manusia adalah mikrokosmos terkait dengan fakta bahwa manusia merupakan puncak dari evolusi alam. Dimana posisi manusia dalam kerangka kerja evolusi alam adalah sebagai hasil akhir, setidaknya ini dilihat dari sudut evolusi biologis, yaitu yang mengatasi dunia mineral, tumbuhan dan hewan.

Sebagai product akhir evolusi alam, manusia yang mengandung seluruh unsure alam semesta, berarti sadar atau tidak, dia memilki semua daya atau kekuatan yang terkandung dalam unsure-unsur yang berbeda dari alam atau kosmos itu.

Sungguh suatu kehormatan bahwa hal ini benar-benar menujukkan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Dengan modal kesempurnaan yang Tuhan berikan kepada manusia seharusnya manusia memegang amanahnya di muka bumi ini.


KESADARAN KRITIS

Dengan melihat dan merasakan kondisi yang telah terjadi serta mencoba memahami potensi diri yang dimiliki manusia maka muncul adanya kesadaran. Kesadaran tidak dapat terjaga dan berkembang jika hanya dimaknai sesaat. Akan tetapi proses dialektika dan wacana yang akan menyuburkan kesadaran manusia. Dengan adanya gerakan penyadaran diharapkan manusia mengenali realitas (lingkungan) sekaligus dirinya sendiri.

Poulo Freire menggagas gerakan “penyadaran” (conscientizacao) sebagai usaha membebaskan manusia dari keterbelakangan, kebodohan atau kebudayaan bisu mengenal realitas (lingkungan) sekaligus dirinya sendiri. Dalam hal ini Freire memetakkan tipologi kesadaran manusia dalam empat kategori: magic conscousness, naival conscousness, critical conscousness, dan kesadaran paling puncak ialah transformative conscousness.

Dengan kesadaran magic, manusia tidak mampu memahami realitas sekaligus dirinya sendiri. Manusia lebih percaya pada kekuatan takdir yang telah menentukannya. Pandangan manusia sangat sederhana melihat realitas sekitarnya dan sikapnya pun menyerahkan diri secara bulat. Justru jika manusia hanya memilki kesadaran seperti ini, manusia berada pada posisi tertindas.

Sedangkan dengan kesadaran naïf (naival conscousness), manusia baru sebatas mengerti namun kurang bisa menganalisa persoalan-persoalan social yang berkaitan dengan unsur-unsur yang mendukung suatu problem social. Ia hanya sekedar mengerti bahwa dirinya tertindas, terbelakang, dan itu tidak lazim. Dan tentu saja belum berani mengajukan tawaran solusi dari problem social.

Kesadaran kritis adalah jenis paling ideal di antara jenis kesadaran sebelumnya. Kesadaran ini bersifat analitis dan sekaligus praksis. Seseorang mampu memahami persoalan social mulai dari pemetaan masalah, identifikasi serta mampu menentukan unsure-unsur yang mempengaruhinya. Di samping itu juga mampu menawarkan solusi-solusi alternative dari suatu problem social. Dalam kesadaran ini, prinsip manusia tidak larut dalam realitas, namun mampu mengubah realitas menjadi sesuatu yang bermanfaat baginya. Di sini timbul sifat ketegasan dalam memilih antara dua kontradiksi dalam kelas social, antara penindas dan tertindas, kuat dan lemah, salah dan benar dan sebagainya.

Dalam kesadaran kritis tidak hanya memikirkan dalam dataran teoritis saja, tetapi harus mampu menyentuh ke persoalan-persoalan yang riil. Solusi haruslan termanifestasikan dalam dunia, bukan sekedar teori yang terus diperdebatkan saja. Namun kesadaran ini menuntut aplikasi nyata (praksis).

Manusia punya “kehendak“ (will) untuk berbuat (to act). Maka, segala apa yang menimpa dirinya dipandang bukanlah “suratan takdir”. Ketika kesadaran kritis telah tumbuh, maka segala macam tawaran dari luar diri manusia akan dipilah-pilah untuk kemudian ia memilih sesuai dengan ‘kehendak‘ (will)-nya. Artinya bahwa manusia itu memilki kehendak untuk menerima atau menolak. Dari sini telah jelas dan tegas bahwa kesadaran kritis cukup kuat untuk mendobrak dogma-dogma yang selama ini merugikan manusia.

Ada juga versi kesadaran manusia menurut Imam Ghazali (1058 – 1111) yang memetakkan dalam empat karakter. Pertama; bahwa manusia itu dinilai tahu bahwasanya dirinya itu tahu. Kedua; bahwa manusia itu tahu kalau dirinya itu tidak tahu. Ketiga; bahwa manusia itu tidak tahu kalau dirinya itu tahu. Keempat; bahwa manusia itu tidak tahu kalau dirinya itu tidak tahu. Untuk dua pemikiran pertama dapat dikategorikan dalam “kesadaran kritis”, namun dua kategori kedua termasuk “kesadaran magis” dan “naïf”.


GERAKAN TRANSFORMATIF

Mengapa perlu ada gerakan? Gerakan seperti apa yang akan dilakukan?

Setelah manusia mengalami proses kesadaran individu dan kesadaran realitas social, maka perlu adanya proses analisa yang mendasar dan ilmiah dan tentu saja aplikasinya. Dengan adanya aplikasi, maka proses kesadaran dapat teruji seberapa jauh kesadaran kita dalam memahami dan menganalisa.

Gerakan-gerakan selama ini yang telah ada, tampaknya belum mampu menyelesaikan persoalan problem social. Bahkan gerakan dari organisasi keagamaan pun kadang masih bersifat karikatif, hanya sebatas belas kasihan, atas dasar ingin menyantuni demi melaksanakan seruan agama agar saling mengasihani supaya Allah SWT juga mengasihani kita di akherat. Tapi cukupkah dengan rasa iba melihat kehidupan kaum dhuafa’ ataupun mustadh‘afin kemudian kita selesaikan melalui program-program yang bersifat klinis untuk menentramkan sesaat penderitaan sosial mereka?

Semboyan yang kita gunakan biasanya adalah jangan berikan ikan tetapi berilah mereka pancing. Tentu tidak sesederhana ucapan jika dibandingkan bagaimana merealisasikannya. Idealnya program-program yang dibuat harus bersifat mendampingi, dan menempatkan mereka sebagai subjek. Oleh karenanya pendekatan transformative menjadi acuan yang sangat penting agar dalam prose situ merekalah yang akan merencanakan program dirinya, memahami strategi dan peluanh-peluang yang mungkin dapat meningkatkan harga dan harkatnya sebagai manusia yang mulia di depan Penciptanya.

Suatu gerakan transformative yang menumbuhkan kepedulian terhadap nasib sesama, dan yang melahirkan aksi solidaritas. Yakni bertujuan mempertalikan mitra insani atas dasar kesadaran iman, bahwa sejarah suatu kaum hanya akan diubah oleh Tuhan jika ada kehendak dan uapaya dari semua anggota kaum itu sendiri. Jelas sekali bahwa konsep gerakan transformasi merupakan gerakan yang paling manusiawi untuk mengubah sejarah kehidupan umat manusia. Sebab dalam proses ini yang berlaku adalah pendampingan dan bukan pengarahan apalagi pemaksaan. Transformasi pada dasarnya juga gerakan cultural yang didasarkan pada liberalisasi, humanisasi dan transendensi yang bersifat profetik. Yakni pengubahan sejarah kehidupan masyarakat oleh masyarakat sendiri ke arah yang lebih partisipatif, terbuka dan emansipatoris. Dan gerakan transformatsi ini harus bersifat holistis. Yakni menyangkut dimensi yang menyeluruh, termasuk transformasi tata nilai, tingkah laku individu dan struktur kehidupan kolektif masyarakat. Sehingga yang lebih diperlukan dalam gerakan transformative bukanlah proyek-proyek ekonomi. Namun, menciptakan suasana kebersamaan di antara masyarakat iru sendiri dalam membicarakan dan mempersepsi relitas, mencari peluang-peluang di balik realitas dan memutuskan secara bersama-bersama bagaimana mengubah relitas itu agar lebih bermakna dilihat dari prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang sederajat sebagai khalifah Allah SWT untuk menciptakan kemakmuran.

Abadi perjuangan!

Daftar Pustaka

Abdurrahman, Moeslim. 1997. Islam Transformatif. Jakarta: Pustaka Firdaus

Kertanegara, Mulyadi. 2002. Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam. Bandung: Mizan

Mu’arif. 2005. Wacana Pendidikan Kritis. Yogyakarta: Ircisod

Pasha, Musthafa Kamal. 2003. Libasut Taqwa: Busana Hidup Mukmin Hakiki. Yogyakarta: Citra Karsa Mandiri.

Suara Muhammadiyah no. 13/ tahun ke 90. 2005

Tidak ada komentar: